Berita eksternal


Jurus Taobao dan Alibaba untuk Dongkrak Ekspor Indonesia



Pertumbuhan ekspor sepanjang 2017 memang cukup menggembirakan. Secara total nilai ekspor berhasil naik 16,2 persen karena membaiknya permintaan global dan harga komoditas yang tinggi. Namun, dilihat dari perbandingan ekspor dengan jumlah penduduk, memang Indonesia masih tertinggal jauh dari negara tetangga, seperti Vietnam dan Malaysia. Pantas bila Presiden Jokowi 'murka' karena dengan penduduk 260 juta orang, harusnya nilai ekspor bisa melebihi Malaysia yang mencapai US$456 miliar. Sementara, nilai ekspor Indonesia per Desember 2017 menurut BPS hanya US$168,7 miliar. Jika membedah postur ekspor Indonesia lebih jauh dapat terlihat bahwa bukan hanya ketergantungan terhadap komoditas mentah saja yang membuat nilai ekspor tertinggal. Akar masalahnya ada pada strategi ekspor yang monoton alias kurang kreatif. Lebih dari 70 persen tujuan ekspor merupakan negara yang sama dibanding 20 tahun lalu. Ekspor Indonesia masih terpaku China, Eropa, India, Jepang, AS dan Eropa. Hal ini berbanding terbalik dari strategi ekspor China, yakni perluasan pasar yang membuat barang atau produk China merajai Afrika. Salah satu strategi yang digunakan oleh China adalah jalur distribusi barang melalui e–commerce. Di era digital saat ini, rantai pasokan yang panjang bisa dengan mudah dipangkas sehingga jarak antara produsen dan konsumen menjadi lebih dekat. Strategi ' cutting the middle man' ini efektif untuk dongkrak nilai ekspor China. Pada 2017, nilai ekspor China mencapai US$2 triliun. Angka ini naik 66,6 persen dibandingkan posisi 10 tahun yang lalu. Perkembangan teknologi dimanfaatkan dengan maksimal oleh perusahaan–perusahaan China mulai dari pakaian jadi hingga barang elektronik. Ekspor Jurus Alibaba Alibaba, salah satu raksasa e–commerce di China sudah lama menyiapkan strategi menembus pasar ekspor. Dalam perjalanan awalnya, Alibaba menyusun dua platform, yakni Taobao dan Alibaba. Dua platform ini punya fungsi yang berbeda. Taobao menjual produk secara grosir atau business to consumer langsung dari produsen atau suplier. Sementara, Alibaba menjual produk secara ritel atau consumer to consumer. Untuk saling melengkapi, Taobao mengumpulkan para penjual dalam satu marketplace, kemudian Alibaba yang jadi distributor akhir. Sementara itu, setelah jumlah produk mencapai skala ekonomi tertentu, Alibaba melancarkan strategi akuisisi e–commerce lokal di negara tujuan ekspor. Startup lokal e–commerce yang baru berkembang di Indonesia tak luput dari pengamatan Alibaba. Lazada dan Tokopedia di tahun 2017 lalu menerima dana suntikan modal sebesar Rp28 triliun dari Alibaba. Dua e–commerce lokal ini kemudian mulai menjual produk–produk dari Alibaba. Tak heran apabila lebih dari 93 persen barang yang dijual di e–commerce Indonesia adalah barang impor. Kerja Alibaba ini kemudian berbuah hasil. Saat saham Alibaba diperdagangkan di bursa Wall Street nilai kapitalisasi pasarnya menembus US$479,4 miliar, lebih tinggi dari produsen pesawat terbang Boeing (US$210 miliar).

Lain lagi soal nilai transaksi Alibaba yang sepanjang 2016 mencapai US$478 miliar. Bahkan, dalam hari Jomlo di China penjualan Alibaba selama satu hari tembus US$25,3 miliar atau setara Rp341,5 miliar. Melalui Alibaba, suplier skala kecil atau UMKM di China bisa menjual produknya hingga ke Indonesia dengan harga yang sangat terjangkau. Ketika ekonomi China mengalami overheating pada 2014 lalu dengan pertumbuhan ekonomi yang merosot dari 10 persen ke 6 persen akibat jatuhnya harga komoditas, China melakukan perubahan strategi ekspor. Strategi Alibaba. Melihat perkembangan Alibaba dalam dominasi e–commerce global, seharusnya Indonesia pun bisa mengejar ketertinggalan. Jurus Alibaba Ada beberapa strategi yang bisa ditiru dari Alibaba. Pertama, pemerintah dan pengusaha lokal perlu membentuk sebuah agregator atau platform yang berfungsi sebagai pengumpul barang–barang dari UMKM maupun industri. Agregator dalam konteks China adalah Taobao marketplace. Setelah barang terkumpul dan mencapai skala ekonomi, langkah berikutnya adalah bekerja sama dengan perusahaan e–commerce. Kedua, adalah terkait dengan cara menembus pasar ekspor. Pasar di ASEAN masih terbuka lebar, sayangnya Indonesia belum memiliki e–commerce yang bisa memasarkan produknya di negara–negara tersebut. Di sini perlunya e–commerce lokal Indonesia mengakuisisi atau mendirikan e–commerce di Vietnam atau Thailand misalnya. Akuisisi e–Commerce Memang, biaya untuk mengakuisisi rintisan e–commerce tidaklah murah. Peran perbankan nasional dibutuhkan sebagai modal ventura. Regulasi pun dibuat agar bank tidak takut dalam menyalurkan kreditnya ke perusahaan e–commerce yang ingin melakukan ekspansi ke luar negeri. Jika dua langkah strategi tersebut berhasil, harapannya ekspor Indonesia akan meningkat signifikan. Postur ekspor yang selama ini didominasi komoditas mentah dan olahan primer pun akan bergeser ke ekspor barang jadi yang bernilai tambah. Dengan strategi tersebut penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur pun akan meningkat, sehingga pertumbuhan ekonomi makin berkualitas. Tentu strategi besar mendongkrak ekspor melalui e–commerce ini juga butuh kesiapan dari semua pemangku kepentingan khususnya pelaku usaha mikro. Skala produksi dan kualitas barang jadi kata kunci untuk menjamah pasar negara lain. asa https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180225175138-93-278702/jurus-taobao-dan-alibaba-untuk-dongkrak-ekspor-indonesia


comments powered by Disqus
" Terwujudnya Perindustrian Dan Perdagangan Jawa Barat Yang berdaya Saing Tinggi "