Berita eksternal


Pahitnya Bahan Baku Industri Kopi



JAKARTA. Kebiasaan masyarakat Indonesia mengonsumsi kopi, rupanya ikut mendongkrak permintaan bubuk kopi olahan di dalam negeri. Tak pelak, produksi kopi nasional harus berbagi pasokan antara pasar domestik dan ekspor.

Faiz Achmad, Direktur Industri Minuman dan Tembakau Kementerian Perindustrian (Kemperin) mengatakan, saat ini industri kopi domestik kewalahan memenuhi tingginya permintaan kopi di pasaran lokal dan luar negeri.

Menurut Faiz, saat ini hampir di setiap kota Indonesia, telah menjamur kedai dan kafe yang menjajakan kopi sebagai menu utamanya. "Akibatnya, kopi petani lokal banyak diserap di dalam negeri dan industri mulai kesulitan mendapatkan  bahan  baku," ujar Faiz, akhir pekan lalu.

Saat ini, lanjut dia, konsumsi kopi nasional telah mencapai 1,1 kilogram (kg) per kapita per tahun. Volume konsumsi itu masih di bawah negara-negara pengimpor kopi seperti Amerika Serikat (AS) yang mencapai  4,3  kg per kapita, Jepang sebanyak 3,4 kg per kapita, Austria mencapai 7,6 kg per kapita, Belgia seberat 8,0  kg  per  kapita, Norwegia mencapai 10,6 kg dan  tertinggi Finlandia yang sebesar 11,4 kg per kapita per tahun.

Karena itu, pemerintah menargetkan, dalam tiga tahun ke depan konsumsi kopi nasional bisa mencapai sekitar 1,5 kg per kapita per tahun.

Salah satu upayanya adalah rutin menggelar hari kopi internasional sebagai ajang promosi konsumsi kopi. Di sisi lain, Faiz menambahkan, pemerintah juga menargetkan ekspor biji kopi tahun ini bisa mencapai 400.000 ton atau naik 10% dari tahun lalu yang sebesar 385.000 ton.

Tahun lalu, ekspor kopi olahan mencapai US$ 332,24 juta atau naik 9,9% dari tahun 2013 yang senilai US$ 302,12 juta.

Ekspor produk kopi olahan didominasi  produk instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Singapura, Malaysia, Filipina, China, dan Uni Emirat Arab.

Wajib SNI 2016

Dus, agar kebutuhan kopi domestik tidak terganggu target ekspor, pemerintah akan mendorong petani meningkatkan produksi biji kopi lewat berbagai penyuluhan dan bantuan dari Kementerian Pertanian (Kemtan).

Menurut Faiz,  saat musim kemarau seperti saat ini, seharusnya produktivitas kopi bisa meningkat. Sebab, potensi biji kopi yang rusak akan berkurang. Saat  ini, produktivitas kopi di Indonesia baru mencapai 741 kg biji kopi per ha per tahun  untuk  jenis  robusta, dan 808 kg biji kopi per hektare per tahun untuk arabika.

Selain menggenjot produksi dan konsumsi kopi, pemerintah juga berencana menerapkan Standar Produk Indonesia (SNI) untuk produk kopi instan pada Januari 2016. Sebab, saat ini banyak beredar kopi instan impor di Indonesia dengan kualitas rendah. Bahkan, kopi intan dicampur dari kulit kopi yang bisa membahayakan kesehatan masyarakat.

Saat ini sebagian besar kopi instan  berasal dari Vietnam dan India. Untuk melindungi konsumen dalam negeri, penerapan  SNI  diberlakukan bagi produk kopi instan impor dan lokal. "Kami melindungi konsumen," imbuh Faiz.

Panggah Susanto, Dirjen Industri Agro Kemperin menambahkan, pengembangan industri pengolahan kopi domestik masih prospektif. Saat ini, industri domestik baru mampu menyerap  35% produksi kopi nasional. Sementara 65% lainnya masih diekspor dalam bentuk biji.

Panggah  berharap, ke depannya industri domestik bisa meningkatkan penyerapan kopi hasil petani lokal. Untuk itu, Kemperin mendorong industri kopi domestik melakukan diversifi kasi produk kopi dalam berbagai varian olahan.  Misalnya selain untuk minuman, kopi diolah menjadi produk farmasi, essen makanan dan kosmetik. 

http://kemenperin.go.id/artikel/13172/Pahitnya-Bahan-Baku-Industri-Kopi


comments powered by Disqus
" Terwujudnya Perindustrian Dan Perdagangan Jawa Barat Yang berdaya Saing Tinggi "