Berita eksternal


Industri Makanan Minta Impor Gula



JAKARTA. Meski musim giling tebu sejumlah Pabrik Gula (PG) belum selesai, pemerintah mulai berencana mengimpor gula untuk kebutuhan industri. Namun, izin impor gula mentah pada kuartal III-2015 yang diusulkan sebesar 630.430 ton belum juga turun, padahal kebutuhan bagi industri makanan dan minuman sudah mendesak.

Panggah Soesanto, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian telah menyurati Kementerian Perdagangan (Kemdag) untuk segera menerbitkan izin impor gula mentah bagi industri. 

Sebab, saat ini, sudah ada enam perusahaan makanan dan minuman stok bahan baku gula milik mereka telah menipis. Alhasil, mereka butuh segera mendapat pasokan baru. "Izin impor ini jangan sampai molor, sehingga berakibat pada terganggunya produksi industri makanan dan minuman," ujar Panggah, Senin (6/7).

Idealnya, izin impor ini sudah harus terbit awal Juli ini. Sebab, proses impor gula mentah memakan waktu sekitar 45 hari. Ini belum termasuk proses rafinasi yang dilakukan di pabrik gula rafinasi sebelum dikirim ke industri.

Namun, Rachmat Gobel, Menteri Perdagangan, belum akan mengeluarkan izin impor ini lantaran Kemdag masih mengevaluasi kebutuhan industri terkait. Evaluasi ini juga bakal menjadi pertimbangan untuk mengurangi impor gula nasional, khususnya untuk industri.

Asal tahu saja, tiap tahun, kebutuhan gula untuk industri mencapai 2,8 juta ton. Hingga Juni 2015, Kemdag telah mengeluarkan izin impor gula mentah sebanyak 1,61 juta ton. Namun, realisasinya baru 1,25 juta ton.

Di sisi lain, 17 pabrik gula dalam negeri, baik itu milik BUMN maupun swasta, yang selama ini memproduksi gula kristal putih (GKP) hasil dari pemrosesan tebu memperkirakan produksi sampai akhir giling pada Oktober nanti bisa sebanyak 2,7 juta ton. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi nasional yang tiap tahun kebutuhannya mencapai 2,55 juta ton. 

Tetap harus impor

Bahkan, dengan adanya surplus produksi yang sebesar 200.000 ton dan tambahan stok tahun lalu hingga 1,2 juta ton, produsen gula dalam negeri mendesak pemerintah untuk mengurangi impor gula secara drastis. Kebutuhan gula industri bisa mengambil dari produsen gula tebu. 

Namun, meski ada proyeksi surplus produksi GKP, industri makanan dan minuman masih enggan melepas impor gula. Sebab, bagi industri besar, secara kualitas, tebu lokal tidak cocok kebutuhan industri makanan minuman besar.

Yamin Rahman, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) mengatakan, impor gula rafinasi merupakan suatu keharusan karena dibutuhkan industri makanan dan minuman. Sebab, produksi gula lokal hanya cukup untuk kebutuhan konsumsi, bukan industri.

Apalagi, belum ada industri dalam negeri yang memproduksi gula mentah (raw sugar). Dengan begitu, praktis industri harus mengimpor untuk mencukupi kebutuhan gula industri.

Salah satu kendala yang membuat industri masih mengimpor adalah masalah lahan baru untuk perkebunan tebu yang tak kunjung terealisasi. Padahal. tambahan lahan tebu baru ini sudah sangat dinantikan untuk menambah produksi gula hingga bisa menyuplai kebutuhan industri.

Saat ini, Indonesia hanya memiliki 460.000 hektare (ha) lahan tebu. Sementara untuk bisa memenuhi kebutuhan gula konsumsi dan industri, dibutuhkan lahan lagi seluas 600.000 ha. 

Meski pemerintah sudah menyiapkan lahan ratusan ribu hektare, namun lahan itu belum siap pakai karena persoalan status tanah.

http://kemenperin.go.id/artikel/12568/Industri-Makanan-Minta-Impor-Gula


comments powered by Disqus
" Terwujudnya Perindustrian Dan Perdagangan Jawa Barat Yang berdaya Saing Tinggi "