Berita eksternal


Sarana Produksi Padi di Kab. Indramayu Jadi Kendala



INDRAMAYU, (PRLM).-Adanya peningkatan target produksi padi dari pemerintahan baru yang memiliki misi swasembada pangan perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas serta kuantitas sarana produksi padi. Di Kabupaten Indramayu, sarana irigasi dan ketersediaan air baku masih menjadi kendala utama yang bisa menghambat realisasi target produksi padi.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, Firman Muntako mengatakan, Pemprov Jawa Barat menargetkan produksi padi sebesar 13,5 juta ton gabah kering panen. Bagi Kabupaten Indramayu, itu artinya terdapat peningkatan target produksi padi menjadi 2 juta ton GKP dari target yang sebelumnya direncanakan sebesar 1,688 juta ton GKP.

Menurutnya, peningkatan target produksi itu juga berdampak kepada penambahan luas tanam. Dalam perencanaan sebelumnya, luas tanam direncanakan sebanyak 236 ribu hektare dari kondisi eksisting sebanyak 116 ribu hektare. Dengan adanya peningkatan target, luas tanam harus meningkat lagi menjadi 277 ribu hektare bila target 2 juta ton GKP bisa direalisasikan.

"Kalau musim tanam rendeng, luas lahan itu bisa dipenuhi. Caranya dengan peningkatan indeks penanaman, serta kerja sama dengan PT Pupuk Kujang. Tapi, pada musim tanam gadu, pengairan sangat terbatas, karena banyak lahan yang tadah hujan," ujarnya, Selasa (20/1/2015).

Dia memproyeksikan, luas tanam pada musim tanam gadu bisa berada pada angka 270 hektare. Menurutnya, wilayah barat maupun timur di Kabupaten Indramayu selalu kesulitan air pada musim tanam gadu, karena kekurangan sumber air baku.

"Kiranya Waduk Jatigede segera beroperasi agar ketersediaan air baku bagi lahan di wilayah barat terpenuhi. Kemudian ada juga pembenahan jaringan irigasi primer, sekunder, lalu bendungan, sodetan, pompa air, agar target dari pusat tercapai," ujarnya.

Dia mengatakan, selama ini pemerintah pusat kurang memberikan dukungan terhadap pembenahan sarana produksi padi. Menurutnya, pembenahan sarana produksi, seperti irigasi, kerap membutuhkan dana yang besar. Namun karena keterbatasan dana, membuat hampir 42% irigasi di Kabupaten Indramayu mengalami kerusakan.

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Indramayu, Sutatang mengatakan, sumber air irigasi di Kabupaten Indramayu berasal dari Bendung Rentang, Kabupaten Majalengka, dan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Kedua sumber air irigasi tersebut tidak bisa menyentuh seluruh daerah di Indramayu. Akibatnya, areal sawah hanya bisa ditanami 1-2 kali dalam setahun.

Menurutnya, di daerah seperti Balongan maupun Singaraja, bahkan ada yang hanya menanam padi sekali dalam setahun, karena arealnya sangat mengandalkan curah hujan. Oleh sebab itu, pada musim tanam gadu, sawah-sawah di daerah tersebut kerap terjadi kekeringan.

"Seharusnya ada perhatian lebih terhadap persoalan pengairan sawah di Indramayu. Terlebih sekarang ada peningkatan produksi," ujarnya.

Dia menyetujui adanya pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang. Pasalnya, persediaan pasokan air akan bertambah. Menurutnya, kemungkinan besar petani di Kabupaten Indramayu bisa menanam padi tiga kali selama setahun. "Produksi padi bisa meningkat, petani juga akan lebih sejahtera," kata dia. (Muhammad Ashari/A-89)

http://www.pikiran-rakyat.com/node/312978


comments powered by Disqus
" Terwujudnya Perindustrian Dan Perdagangan Jawa Barat Yang berdaya Saing Tinggi "