Berita eksternal


Produksi Rokok Capai Target



JAKARTA-Realisasi produksi rokok selama Januari-Oktober tahun ini memenuhi sekitar 93,9% dari target atau setara dengan 338 miliar batang.

Direktur Minuman dan Tembakau Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Faiz Ahmad menyatakan sepanjang tahun ini produksi rokok diperkirakan mencapai 360 miliar batang. Jumlah ini lebih tinggi sekitar 5,46% terhadap realisasi tahun lalu sebesar 342 miliar.

“Antara konsumsi dan produksi hampir sama karena life cycle produk sigaret itu pendek sekalipun ada penarikan untuk produk yang tidak laku tetapi datanya relatif tidak besar,” ucapnya saat dihubungi Bisnis, Senin (15/12).

Porsi sigaret kretek tangan (SKT) dari total produksi menyusut 1% men jadi 26%, selama tahun tahun lalu pangsa rokok ini di kisaran 27%. Pada Januari – Oktober tahun ini pangsa sigaret kretek mesin (SKM) meningkat jadi 66%, sedangkan sigaret putih mesin (SPM) tetap di kisarann 6%.

Ketika ditanya prognosis produksi rokok pada tahun depan, Kemenperin enggan menyebutkan angka. Ini disebabkan peta jalan industri hasil tembakau periode 2015 – 2020 belum selesai dibahas. Pembahasan draf peta jalan ini akan dilanjutkan pada awal tahun depan.

“Dari produksi itu, ada yang di ekspor termasuk rokok dan tembakau. Selama Januari – Oktober keseluruhan ekspor nilainya sekitar US$1,1 miliar,” ucap Faiz.

Ekspor tembakau dan produk hasil tembakau ditujukan ke Eropa maupun Asia. Untuk pasar Eropa mayoritas yang dipasok berupa lembaran-lembaran tembakau, sedangkan Asia berwujud rokok alias produk hasil olahan tembakau.

Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) memproyeksikan ekspor rokok pada tahun depan di kisaran US$1 miliar-US$1,1 miliar. Faiz menilai target ini memperlihatkan lemahnya gairah penjualan sigaret ke luar negeri. “Bisa karena banyak tekanan bisnis untuk ekspor tahun depan, jadi wajar kalau agak pesimis.”

LARANGAN ROKOK

Tantangan yang menghantui ekspor rokok pada 2015, seperti larangan rokok beraroma di Amerika Serikat dan kemasan polos (plain packaging) di Australia dan menyusul di Inggris. Kebijakan ini dapat menghambat ekspor sekaligus menurunkan konsumsi rokok di negara tersebut.

Wakil Ketua AMTI Budidoyo menjelaskan selama tiga tahun terakhir ekspor rokok menunjukkan tren positif alias peningkatan.

Sepanjang tahun lalu nilainya mencapai US$931,4 juta, sementara pada 2011 baru US$710,1 juta dan US$794,2 juta.

“Setiap tahun hampir pasti meningkat, kalau sekarang [pada tahun ini] di kisaran US$1 miliar, ini akan tercapai karena setiap tahun bertambah terus. Pertumbuhan setiap tahun 7% - 10%,” ucapnya.

Pamor rokok kretek di luar negeri dirasakan semakin tinggi, baik untuk sigaret kretek tangan mau pun mesin. Total ekspor tahun depan diperkirakan mencapai US$1,1 miliar. Angka ini berpotensi naik lebih tinggi manakala masalah dengan AS dan Australia teratasi.

Target penaikan volume ekspor pada tahun depan, menurut Budidoyo, memang tidak bombastis. Alo kasi ekspor dari produksi sigaret tidak besar hanya sekitar 7% sedangkan 93% sisanya diserap konsumen domestik.

AMTI maupun Kemenperin mengakui potensi peningkatan nilai ekspor pada 2015 kemungkinan semata terdongkrak penguatan kurs dolar AS terhadap rupiah. Untuk memastikannya, imbuh Faiz, harus melihat realisasi ekspor dari segi volumenya. Dini Hariyanti

http://kemenperin.go.id/artikel/10670/Produksi-Rokok-Capai-Target


comments powered by Disqus
" Terwujudnya Perindustrian Dan Perdagangan Jawa Barat Yang berdaya Saing Tinggi "